Peningkatan kesehatan keluarga melalui kesetaraan gender


Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya ketidak setaraan gender yang selama ini terjadi di lingkungan keseharian kita. Selain karena faktor budaya dan geografis lebih banyak berasal dari keluarga di pedalaman atau perkampungan.

Karena masih ada kata tabu yang menjadi tolak ukur bagi masyarakat di pedalaman. Yang paling sering kita dengar adalah kasus pernikahan di bawah umur yang menjadikan perempuan di daerah tidak bisa lagi melanjutkan keinginan mereka contohnya untuk melanjutkan sekolah.

Bukan karena dari segi mental pernikanan di bawah umur itu sangat tidak dianjurkan,tetapi juga dari segi kesehatan. Menurut drg. widya Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI, para perempuan yang menikah dibawah umur dari segi kesehatan sangat riskan terjadi nya keguguran atau anak lahir dengan kondisi cacat.Karena menurut drg. Widya organ organ kewanitaan ketika umur dibawah 20 tahun masih belum sempurna secara fungsi nya.
Hal ini yang mendasari perlunya penyuluhan atau bimbingan kepada masyarakat untuk lebih memahami tentang Germas (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) melalui peran serta para blogger sebagai duta digital kesehatan. Karena di media sosial isu kesehatan masuk menjadi bahan berita hoaks ke 3 setelah politik dan sara. Hampir 27% dari 1.000 berita hoaks yang masuk dari februari 2016 sampai februari 2017 adalah berita kesehatan.

Kesetaraan gender secara sisi hukum masih belum sepenuh nya berjalan, salah satu contohnya adalah ketika kasus aborsi. Pihak perempuan yang melakukan aborsi sudah pasti akan terkena jerat hukum sedangkan pihak laki laki nya tidak. Dan ketika kejadian tersebut menimpa anak sekolah, anak perempuan tersebut harus keluar dari sekolah tanpa bisa meneruskan pendidikan dikarenakan dirinya hamil.

Comments

Popular Posts