Perjalanan Mengunjungi Kampung Adat Cireundeu



Jam di tangan saya menunjukkan waktu pukul 17.10 sudah hampir mau magrib, saat itu saya baru saja keluar dari Bandara Husein Sastranegara sepulang melaksanakan tugas meliput sebuah event Internasional di Ubud, Bali.

Sambil berjalan kaki meninggalkan bandara, segera saya ambil smartphone untuk mengecek beberapa pesan yang masuk di whatsapp dan memesan ojek online untuk mengantarkan saya ke Kampung Adat Cireundeu Cimahi.

Gerimis hujan mulai turun seiring macetnya lalu-lintas sepanjang jalur Cibeureum menuju Cimahi yang lebih dikarenakan "sang raja jalanan" yang parkir sesuka hati. Sambil mengontak beberapa rekan yang sudah berada disana untuk mendapatkan informasi lebih detail hanya untuk berjaga-jaga.

Tepat pukul 18.30 sepeda motor yang mengantarkan saya tiba di gerbang menuju Kampung Adat Cireundeu, saya langsung bergegas menuju balai pertemuan yang tadi siang dijadikan tempat kegiatan dan berkumpulnya para peserta. Dengan harapan masih ada yang belum berangkat ke puncak gunung salam dan bisa berangkat bersamaan.

Keberuntungan masih berpihak ternyata, selang beberapa menit menunggu di depan warung untuk sekalian membeli cemilan dan obat untuk masuk angin titipan anak-anak yang sempat mengirim pesan, datang seorang warga kampung Cireundeu yang mengabarkan bahwa ada 2 orang yang akan berangkat menyusul ke puncak salam.

Syukurlah, tadinya saya sudah memutuskan untuk berangkat sendiri jika memang sudah tidak ada lagi orang yang naik ke puncak salam. Meskipun saya sendiri belum mengetahui persis lokasi tempat peserta berkemah.

Saya beserta dua orang warga tersebut mulai berjalan meninggalkan kampung Cireundeu menuju puncak salam, tapi ketika akan memasuki daerah perbatasan kampung, langkah warga di depan yang bernama kang Yana terhenti.

Dengan meminta ijin, kang Yana menyarankan saya untuk mencopot sepatu dan berjalan tanpa alas kaki menuju puncak salam. Saya sendiri sebenarnya sudah pernah mendengar aturan bahwa ketika memasuki daerah hutan ataupun ke puncak gunung salam harus menanggalkan alas kaki nya.


Gunung Salam yang hanya mempunyai ketinggian 927 mdpl ini ternyata tidak segampang yang saya duga untuk bisa mencapai puncaknya. Medan yang dilalui adalah jalan tanah setapak berbatu yang terasa berat dengan ditempuh tanpa menggunakan alas kaki, apalagi tingkat kemiringan nya hampir mencapai 40 derajat. Ditambah kami bertiga harus melaluinya tanpa penerangan sedikitpun. Saya rasa pendaki yang berpengalaman pun akan mengalami kendala yang sama seperti yang saya alami.

Hampir 1 jam perjalanan kami tempuh dengan beberapa kali berhenti untuk mengatur nafas yang sudah kembang kempis khususnya saya hehehe. Jujur karena kurang dan jarangnya saya berolahraga menjadikan ketahanan fisik saya terasa sangat terkuras.


Akhirnya dataran yang dituju terlihat diantara samar cahaya bulan. Beberapa tenda terlihat berjejer di tanah lapang yang baru beberapa hari rumputnya dipapah. Ini terasa dari masih kerasnya bekas rumput yang terinjak oleh kaki ini.

Saya langsung merebahkan badan ketika sampai di dalam tenda yang sudah berisi beberapa orang yang belum saya kenal sebagian. Sambil meminum air yang saya beli dari warung ketika berada di kampung tadi, saya mulai bertanya tentang acara tadi siang kepada salah satu anggota GenPI Bandung Raya (sebuah komunitas volunteer yang dibentuk oleh Kementerian Pariwisata RI yang membantu mempromosikan potensi pariwisata yang ada di Bandung Raya khususnya umumnya Jawa Barat dan Indonesia).


Tadi siang sebelumnya sudah dilaksanakan acara forum discussion group (FGD) yang dihadiri langsung oleh Walikota Cimahi Ajay Priatna dengan pesertanya para pelaku pariwisata atu biasa disebut pentahelix yang terdiri dari Akademisi, Bussiness, Community, Government, dan Media.


Semuanya berkumpul untuk membahas perkembangan pariwisata di Kota Cimahi khususnya wacana pembuatan destinasi digital / pasar digital. Mungkin sebagian belum mengerti apa destinasi / pasar digital atau gambaran nya seperti apa.

Destinasi digital adalah sebuah tempat wisata baru yang dikreasi oleh anak-anak GenPI yang indah di kamera, alias Cameragenic. Bahasa lainnya Instagramable, kalau dicapture menggunakan kamera handphone, lalu diposting di media social, seperti Instagram atau Facebook, langsung mendapat respons positif.

Banyak yang nge-views, nge-likes, comments, repost, banyak yang nge-share, dan ujungnya banyak memperoleh followers, friends dan fans baru di akun kita. Ujungnya, banyak interaksi di media social yang diawali dari sebuah postingan yang diambil dari spot selfie.


Destinasi Digital itu dibangun, untuk mewadahi millenials, yang selanjutnya diikuti oleh public, keluarga, dan masyarakat umum. Maka konsep destinasi digital itu selalu dinamakan “Pasar.” Mengapa Pasar? Ya, pasar adalah meeting point. Tempat bertemunya penjual dan pembeli, tempat berjumpa seller dan buyer. Tempat bertransaksi bisnis. Tempat ngopi bareng teman. Tempat nongkrong semua level orang. Tempat berbaur, bersosialisasi, berinteraksi.

Tempat membahas apa saja dengan bebas, terbuka, tidak ada jarak dan asyik. Tempat aneka ragam kuliner, tempat rekreasi, tempat permainan, ajang promosi, ngobrol ngalor ngidul. Tempat mencari pacar, berkenalan, dan berbagi. Perbincangan di pasar itu jauh lebih bebas, lebih egaliter, lebih leluasa, dibandingkan berdiskusi di dalam ruang tertutup.

Intinya ada keinginan dari pihak Disbudparpora Kota Cimahi untuk menghidupkan pariwisata berbasis komunitas dan budaya yang berlandaskan ekonomi kerakyatan tetapi mampu menggerakkan para millenial yang ada di kota Cimahi sehingga menjadi satu kesatuan yang utuh dan kuat.


Di Kampung Adat Cireundeu ini potensi nya sangat terbuka mulai dari sejarah, budaya, alam, hingga kearifan lokal nya masih menjadi daya tarik bagi para pengunjung. Salah satu yang mejadi perhatian saya adalah masyarakat kampung Cireundeu ini sudah tidak bergantung kepada nasi / beras hampir selama satu abad lebih.


Mereka mengganti sumber makanan pokok mereka dari nasi menjadi singkong atau ketela. Dengan diolah terlebih dahulu hingga akhirnya menjadi Rasi alias beras singkong. Saya sendiri merasakan bagaimana rasanya memakan rasi yang diolah seperti nasi biasa dengan ditemani lauk pauk yang saya bilang sangat enak.

Hasil beberapa penelitian yang diungkapkan anbti.org menjelaskan bahwa memakan nasi beras kekuatannya 5 jam, tapi kalau kita sudah biasa menkonsumsi nasi singkong bisa kuat bertahan 6 atau 7 jam. Nasi singkong juga bisa untuk mengobati penyakit diabetes, kadar serat kasar yang baik yang terkandung didalam rasi dan kadar abu 1,9 % per 100 gram yang sangat sehat buat metabolism pencernaan. 


Malam itu kami semua merasakan nikmatnya rasi diatas ketinggian 927 mdpl dengan cuaca dingin dan terangnya sinar bulan. Dan ketika sebagian warga kampung yang turut hadir melakukan ritual pembacaan doa sebelum menyalakan api unggun di puncak salam. Malam pun terasa sangat syahdu, kami berkumpul mengelilingi api unggun sambil berbincang tentang segala hal.

Tak ada sekat diantara kami, padahal didalam para peserta yang ikut camping ini hadir kepala dinas, dan para staf dari Disbudparpora Kota Cimahi. Sebagian peserta berasal dari beberapa Genpi daerah seperti Cianjur, Garut, Subang, dan tentunya dari Bandung Raya.


Kenapa ada Genpi Bandung Raya bukan Genpi Cimahi atau Genpi Bandung Barat saja? Karena di Genpi tidak selalu harus mengikuti secara administratif. Contohnya jika orang dari luar berkunjung ke daerah Lembang mereka akan bilang main ke Bandung, atau ketika berkunjung ke Ciwidey pasti disebut Bandung. Kita berbicara keterkaitan satu daerah yang berbatasan dengan seluruh wilayah yang ada di Bandung Raya, begitupun program yang diterapkan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat tentang pariwisata Bandung Raya.

Genpi tidak terbatas oleh wilayah, karena di Genpi kita berbicara tentang Pariwisata Indonesia. Genpi lahir untuk membangun ekosistem Pariwisata Indonesia yang semakin kondusif. Karena masa depan Indonesia adalah Pariwisata. Karena core economy bangsa ini ada di industry kreatif dan cultural, dan Pariwisata ada di dalamnya. Maka kita perlu menciptakan ekosistem yang subur untuk tumbuh dan berkembangnya sektor Pariwisata di tanah air.

Malam itu pun kami bersenda gurau bersama ditemani minuman khas daerah Jawa Barat yaitu bandrek dan olahan umbi umbian mulai dari rebus singkong, kacang tanah, hingga ubi jalar. Tak terasa hujan pun mulai membasahi puncak salam yang sudah diselimuti kabut tebal sehingga menutupi pandangan kita ke arah yang lain.


Suara suara hewan malam mulai terdengar bising disekitaran tenda tempat kami berteduh. Dan akhirnya perlahan mata ini mulai terasa berat, lambat laun suara suara itu terdengar samar hingga akhirnya semua lelah membawa kami larut di puncak salam.


Udara terasa masih sangat dingin saat terdengar beberapa orang sedang berbincang diluar tenda. Badan sedikit terasa pegal karena posisi tidur kita berdempetan sekitar 8 orang dalam tenda yang harusnya berkapasitas 5-6 orang, kalo istilah bahasa sunda nya " Entep Pindang" (posisi tidur yang berjejer seperti ikan pindang yang didagangkan di pasar).

Perlahan saya mencoba berdiri dengan keadaan mata masih terasa perih dan berat untuk dibuka. Mencari kamar kecil yang alakadarnya disediakan untuk kegiatan saat ini dan mencuci muka tidak lupa menggosok gigi hehehe.


Di sebelah timur cahaya kuning sang fajar mulai terlihat meluas, banyak rekan rekan yang lain mengabadikan moment ini di kamera serta smartphone masing-masing. Sedangkan saya dan beberapa teman yang lain nya berbincang membelakangi api unggun yang sudah kembali dinyalakan sambil menanti matahari yang masih tertutup kabut, bahkan disebelah utara terpampang view gunung tangkuban perahu dan gunung Burangrang yang tertutup sebagian kabut pagi.


Waktu yang dinanti akhirnya tiba, mentari muncul dengan hangat sinar yang memancar menerangi bumi. Sebelum kami turun kembali ke kampung, sudah menjadi rutinitas sebagai " laskar digital pariwisata" kami berfoto bersama untuk keperluan dokumentasi serta bahan postingan di media sosial ataupun blog kami. Kami membereskan peralatan dan barang-barang yang andai tenda untuk bergegas menuju kampung Cireundeu.

Jangan meninggalkan apapun kecuali jejak, dan janganlah mengambil apapun kecuali gambar.

Comments

  1. Kapan kapan mau lah diajak lagi. Hehehe... Pengalaman luar biasa pokoknya terkait sejarah KAC (kampung adat Cireundeu ini)

    ReplyDelete
  2. Sebuah pengalaman yg sangat berharga ..😇

    ReplyDelete
  3. wahh seruuu..
    sehabis hujan ya.. kalau dilanjutin pakai sepatu kayaknya sepatunya bakal rusak karena medannya licin

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe kalo diawal bisa pake sepatu pasti milih pake sepatu

      Delete
  4. wah berarti harus hati2 yah kak klo tingkat kemiringanya 40 derajat. Btw aku jadi kangen naik gunung klo liat bgnian hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo kondisi musim kemarau mungkin tidak terlalu berat, yang repot kalo udah musim hujan siap siap aja kaya berseluncur

      Delete
  5. Wah ternaya indah yaa bang Cireundeu. Kapan-kapan main kesini ah hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus nyobain sensasi puncak salam, biar gak setinggi gunung yg lain tapi tetap sangat berkesan

      Delete
  6. pengennnnnn... liat matahari terbit gitu aku pasti nangis.. bersyukur banget dikasih pengalaman sekeren itu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harus nyobain apalagi dengan teman yg spesial kesana nya

      Delete

Post a Comment

Popular Posts