Bijak Bersosial Media Guna Terciptanya The Power Of Bhineka Tunggal Ika

 


Perkembangan teknologi yang sangat massive di era digital ini bisa terlihat dengan meningkatnya angka pengguna internet di tanah air. Belum lagi kalau kita melihat data yang disuguhkan Hootsuite pada Januari 2021 menerangkan bahwa pengguna sosial media di Indonesia mencapai 170 juta jiwa atau 61.8 % dari total populasi warga Indonesia yang berjumlah kurang lebih 274,9 juta jiwa. Fantastis bukan? bagaimana keterikatan orang-orang di negeri ini akan sosial media yang begitu tinggi.

Akan tetapi tinggi nya pengguna sosial media di tanah air tidak dibarengi juga dengan kedewasaan dalam penggunaan sosial media. Banyak sekali contoh-contoh kasus di negeri ini dari orang-orang yang belum bijak dalam menggunakan sosial media hingga akhirnya terkena "getah" hanya karena ulah jari yang tidak mengikuti norma bersosial media. Kalau dahulu ada istilah "Mulut mu Harimau mu" maka diera sosial media ini lebih tepat dengan istilah "Jari mu Harimau mu" jika kita tidak bisa menjaga jari kita maka hal itu sendiri yang akan mencelakakan kita sendiri.

Padahal jika kita bisa lebih bijak dalam menggunakan sosial media, malah sosial media tersebut akan memberikan banyak manfaat baik secara materi maupun ilmu pengetahuan. Seperti banyak bermunculan nya pekerjaan yang berasal dari mengoptimalkan media sosial saat ini. Sosial Media Specialist, Social Media Officer, Social Media Strategy, Social Media Marketing, atau bahkan Social Media Influencer adalah beberapa pekerjaan yang berhubungan dengan sosial media.

Bijak Bersosial Media Dalam Mewujudkan Karakter Bangsa 


Pada tanggal 18 September 2021 kemarin saya berkesempatan hadir mengikuti undangan dari Kang Ali Muakhir salah satu senior blogger yang ada di Bandung dalam acara gathering netizen Bandung bersama MPR RI. Bertempat di Crowne Plaza Hotel Bandung acara yang hadiri oleh teman-teman blogger yang berasal dari Bandung dan Purwakarta. Dari pihak MPR RI dihadiri oleh Ibu Siti Fauziah, S.E, M.M (Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Sistem Informasi Sekretariat Jenderal MPR RI) serta  Bapak Budi Muliawan S.H, M.H (Kepala Bagian Pemberitaan dan Hubungan Antar Lembaga) sebagai nara sumber. Acara ini juga dipandu oleh Mbak Nurliya Apriyana, S.E, M.M (Dosen Vokasi UI dan Pegiat Literasi Media Sosial) sebagai moderator serta pembawa acara di isi oleh Raja Lubis perwakilan dari blogger Bandung.

Gathering temu netizen dengan MPR RI ini bagi saya memang bukan yang pertama kalinya. Alhamdulillah sudah ketiga kalinya saya diundang dalam acara bersama salah satu lembaga tinggi negara ini. Dan yang terakhir sekitar bulan November tahun lalu dengan formasi narasumber yang sama. Acara dimulai dengan dikumandangkan nya lagu kebangsaan Indonesia Raya serta dilanjutkan dengan pembacaan teks Pancasila oleh seluruh peserta kegiatan. Diskusi mengenai tren sosial media saat ini menjadi bahan perbincangan yang sangat menarik. Apalagi isu hoax serta SARA yang sangat berpotensi memecah belah persatuan bangsa apabila tidak kita saring terlebih dahulu.

Menurut Bu Siti Fauziah, MPR RI berupaya untuk bisa terus menyampaikan 4 Pilar MPR RI sebagai pedoman dalam kehidupan dengan cara yang lebih relevan di masa kini. Tetapi salah satu hal yang menjadi kendala terbesar dalam menyampaikan informasi di akun official media sosial MPR RI terkesan kaku dan tidak fleksibel. Terlebih beberapa masukan dari para blogger menyoroti tentang akun official MPR RI agar bisa lebih fleksibel tetapi tetap menjaga marwah sebagai lembaga tinggi negara sehingga bisa diterima oleh generasi saat ini yakni generasi millenial serta generasi Z.

The Power Of Bhineka Tunggal Ika

Perbedaan sejatinya bukan menjadi suatu halangan, karena secara kodrat pun manusia diciptakan berbeda. Apalagi di Indonesia yang sangat kaya akan keberagaman suku, bahasa, budaya, bahkan agama. Kita dituntut untuk bisa mencerna secara dalam apa yang tersimpan dalam makna 4 Pilar MPR RI (Pancasila, UUD Negara Republik Indonesia 1945, NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), Bhineka Tunggal Ika) yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari kita. Seperti saya dan teman-teman blogger yang hadir di acara tersebut, banyak perbedaan latar belakang, suku asal, background pendidikan, bahkan tempat tinggal. Dan hal tersebut tidak menjadikan suatu halangan bagi kita untuk berkumpul dan bersinergi dengan satu passion yang sama yakni menulis. Tetap menghargai setiap perbedaan yang kita miliki, karena berbeda itu indah. Seperti halnya pelangi, perbedaan justru akan membuat hidup kita akan jauh lebih berwarna.

Semoga apa yang telah dibahas dan saran dalam acara ini bisa diterima dan menjadi masukan kepada pihak MPR RI untuk lebih menyesuaikan dengan perkembangan zaman.


Comments

  1. Unity in diversity,... begitu ceunah kang istilah kerennya bhinneka Tunggal Ika teh! Nice Post, mengingatkan untuk selalu menghargai perbedaan

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts