Pahami Dan Cegah Terjadinya Disabiltas Karena Kusta

                          


Indonesia merupakan salah satu dari 3 negara dengan penderita kusta terbanyak di dunia selain Brazil dan India. Hal ini tentunya menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi pemerintah negeri ini untuk bisa mengurangi bahkan meminimalisir penderita kusta atau lepra ini.

Seperti kita ketahui, kusta merupakan salah satu jenis penyakit yang berbahaya. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Leprae. Bagian tubuh yang mengalami sakit adalah kulit, jaringan saraf perifer, mata, dan selaput bagian dalam hidung. Dalam kondisi akut bisa menyebabkan disabilitas atau cacat pada bagian tubuh yang sakit tersebut. Bagaimana cara cegah disabilitas karena kusta?

Gejala awal yang harus kita ketahui tentang penyakit kusta ini diantaranya adalah terdapat bercak keputihan atau kemerahan pada kulit (seperti panu), terjadinya kerusakan saraf yang mengarah pada mati rasa di lengan dan kaki, melemahnya otot dan kelumpuhan terutama pada tangan dan kaki.

Selain itu muncul banyak benjolan simetris pada kedua sisi tubuh, pasien akan kesulitan bernafas karena penumpukan kerak di selaput hidung, dan terjadi masalah penglihatan yang dapat menyebabkan kebutaan.

Baca juga: PROGRAM 3 ZERO UNTUK PEMBERANTASAN PENYAKIT KUSTA DI INDONESIA


RUANG PUBLIK KBR GELAR TALKSHOW "YUK CEGAH DISABILITAS KARENA KUSTA"

Pada hari Senin 20 Desember 2021 kemarin, saya berkesempatan mengikuti acara Talkshow yang diselenggarakan oleh Ruang Publik KBR yang mengambil tema “Yuk Cegah Disabilitas Karena Kusta”. 

Hadir sebagai sebagai pembicara dalam kegiatan tersebut dr Sri Linuwih Susetyo SpKK(K), Ketua Kelompok Study Morbus Hansen (Kusta) Indonesia serta Pak Dulamin sebagai Ketua Kelompok Perawatan Diri (PKD) Astanajapura, Cirebon. Pak Dulamin ini adalah salah satu penderita kusta yang sembuh setelah melakukan perawatan diri selama satu tahun.



Fakta mencengangkan bahwa penyakit kusta ini ternyata masih menjadi salah satu penyebab terbesar terjadinya disabilitas di Indonesia. Faktor rendahnya kesadaran masyarakat akan munculnya gejala kusta tersebut ternyata menjadi penyebab utama. 

Belum lagi dengan stigma yang salah dari masyarakat sehingga penderita merasa malu dan enggan untuk berobat. Ditambah dengan proses penyembuhannya sendiri yang memerlukan waktu cukup lama.

Penularan penyakit kusta ini melalui percikan air ludah atau dahak pada saat batuk atau bersih. Dampak dari penyakit yang cukup fatal menyebabkan banyak penderita dijauhi oleh masyarakat. 

Paradigma yang salah juga menjadikan penderita menutup diri. Hal ini semakin menambah mata rantai kendala pengobatan karena kurang terbukanya informasi dan akses kesehatan. 

Dampak yang paling fatal bagi penderita adalah terjadinya disabilitas atau cacat baik sementara maupun permanen. Penyakit kusta ini terbukti telah menurunkan kualitas hidup penderitanya. 


TERJADINYA DISABILITAS AKIBAT PENYAKIT KUSTA

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, kuman penyebab kusta akan merusak saraf, kulit mata, dan bagian lain. Indikasi awal adalah terjadinya baal atau mati rasa. Jika penderita mengalami luka dan tidak dapat merasakannya maka bisa berakibat fatal karena terlambat melakukan pengobatan.



Sedang menurut dr Sri Linuwih, jika bagian yang terserang kusta adalah siku, mata, atau hidung, dapat menyebabkan cacat sehingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Penderita dapat mengalami kelumpuhan karena gangguan pada saraf motoriknya. Pada penderita yang tidak segera mendapat penanganan medis, maka kuman dapat menyerang otot dan tulang.

Penderita kusta mempunyai risiko mengalami cacat pada tangan, kaki, kulit, dan mata. Meski begitu, pasien kusta harus tetap berpikir positif. Tidak semua gejala dapat menyebabkan cacat. Diagnosa sejak dini dan pengobatan yang tepat bisa mengurangi risiko tersebut. Jika timbul gejala sebaiknya pasien segera mengunjungi fasilitas kesehatan agar secepatnya mendapat perawatan yang tepat.

Perawatan dan cara pencegahan terjadinya cacat tergantung dari gejala yang timbul. Efek masuknya kuman kusta sampai menjadi kusta membutuhkan waktu yang lama. Jeda tersebut merupakan saat yang tepat untuk melakukan pencegahan akibat fatal yang ditimbulkan.

TINDAKAN UNTUK MENCEGAH PENYAKIT KUSTA

Pola hidup bersih dan menjaga kebersihan lingkungan merupakan langkah awal untuk mencegah terjadinya kasus kusta. Edukasi dan monitoring penyebarannya juga harus terus dilakukan. Kegiatan memberikan kesadaran bahwa kusta bukanlah aib dan merupakan penyakit yang dapat sembuh perlu mendapat perhatian.

Secara medis, kemoprofilaksis adalah pemberian obat dalam rangka mencegah terjadinya penyebaran kusta. Dokter Sri Linuwih melanjutkan, orang sehat dapat tertular dan ikut menderita kusta dari penderita yang belum tertangani. Oleh karena itu pencegahannya sangat penting dilakukan. Namun menurut beliau sebenarnya daya tular kuman penyebab kusta cukup rendah. Terlebih bagi orang dengan kekebalan tubuh yang prima.

PENANGANAN PENGOBATAN KUSTA

Kusta merupakan penyakit yang membutuhkan waktu penyembuhan cukup lama. Namun demikian, dengan penanganan tepat potensi kesembuhannya tinggi. Perlu waktu 6 sampai 12 bulan bagi penderita untuk dapat dinyatakan sembuh total. Masih menurut dr sri Linuwih Susetyo, pasien dapat berobat secara gratis dengan mengunjungi fasilitas kesehatan seperti Puskesmas. Obat tersebut disediakan dalam satu paket sehingga memudahkan penderita untuk meminumnya.

PERAWATAN SECARA MANDIRI

Penyakit kusta sebenarnya dapat sembuh dengan perawatan mandiri asal konsisten. Hal ini terbukti dengan pengalaman pasien kusta di wilayah Kecamatan Astanajapura, Cirebon yang dapat sembuh total. Komunitas yang bernama “Kelompok Pengobatan Diri” atau KPD ini beranggotakan 20 orang yang pernah menderita kusta dan saat ini sudah dinyatakan sembuh.

Saling kontrol dan mensupport antar sesama penderita memberi kekuatan serta semangat untuk segera sembuh. Tidak jarang antar anggota menanyakan apakah sudah membersihkan diri dengan benar secara rutin. Ketua PKD, Dulamin mengatakan bahwa edukasi dan pengetahuan tentang kusta, baik penyebab, pencegahan dan cara penyembuhan sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Pengetahuan tersebut dapat menjadi bekal agar tidak terjadi penyebaran penyakit dan bisa melakukan pengobatan secara mandiri

Comments

Popular Posts